Saturday, November 15, 2008


cinta sama dengan derita

cinta datang hanya untuk membuat hati menangis

kenapa ada cinta bila tak berakhir bahagia ... ?

enyahlah wahai kau cinta

aku tak membutuhkanmu

benarkah cinta seperti angin ... ?

datang sebentar 'nikmat'

lalu pergi 'derita'

benarkah cinta seperti air ... ?

tenang 'menghanyutkan'

arus 'menenggelamkan'

bukan ... bukan cinta itu yang aku mau

ku ingin cinta yang bisa menenangkanku

yang bisa mengejukan hatiku

"kenapa ada cinta"

Friday, November 14, 2008

Wahai Sahabat Jangan Bersedih -- Engkau Tidak Sendiri

Benar, hari ini memang tak jauh berbeda dari kemaren. Semua berjalan dan berlalu seperti biasa, tiada yang kelihatan istimewa. Iya, sepertinya kita telah hanyut dan terbuai dalam rutinitas. . .Pagi, siang, sore, malam, disibukan agenda, yang tidak jauh berbeda dengan hari kemarin, mirip atau bahkan sama. Ah, mudah-mudahan kita tidak termasuk 'orang-orang yang rugi, yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin'...

Seperti itulah keadaan kita hari ini ... mengalir ... ada senang, ada sedih, ada galau, kadang nikmat, banyak pilihan, penuh rupa dengan berbagai warna ... Semua bercampur, di hari ini, hari yang baru saja kita lewati.

Maka, jalani kehidupan ini dengan kenyataan yang ada. Kendalikan jiwa untuk dapat menerima dan menikmatinya. Bagaimanapun dan seberat apa pun hari ini ... Sempatkan diri kita untuk menengok kanan dan kiri. Kita akan melihat, bahwa betapa banyak orang yang mendapat ujian dan betapa banyak orang yang di timpa bencana. 'Ternyata kita tidak sendiri...' Iya, setiap pipi pasti pernah terbasahi oleh air mata, dengan masing-masing sebab ... dengan masing-masing rintihan.

Begitu banyak penderitaan yang telah terjadi dan sebanyak itu pula orang-orang yang sabar menghadapinya. 'Ternyata kita tidak sendiri ...' Sahabat, kita bukan satu-satunya orang yang mendapat cobaan.

Bahkan, rasanya kita yang paling ringan dan bisa jadi tidak seberat penderitaan yang di tanggung oleh sodara kita. Betapa banyak orang terbaring sakit bertahun-tahun, betapa banyak orang yang harus berpisah dengan keluarga, betapa banyak orang yang kehilangan buah hatinya ... Sekali lagi, penderitaan kita tidak seberat penderitaan mereka. Maka, berbahagialah ...

Kini, tiba saatnya memandang diri kita mulia bersama mereka yang mendapat ujian dan cobaan. Bandingkan penderitaan kita dengan penderitaan orang-orang disekitar kita. Niscaya, kita akan sadar, karena sebenarnya kita lebih beruntung. Maka pujilah Allah atas semua kebaikan-Nya, bersyukurlah atas semua yang telah dikaruniakan, bersabarlah atas semua yang diambil dan yakinilah kemuliaan kita bersama orang-orang yang menderita di sekitar kita.

Ketahuilah, kesulitan dan ujian itu akan menguatkan hati, menghapuskan dosa, menghancurkan rasa ujub, mengubur rasa sombong, meluruhkan kelalaian, menyalakan lentera dzikir dan membuat kita sadar. Berdiri dan tersenyumlah ... bersama orang-orang yang 'juga' mendapatkan ujian.

Akhir, buat sahabat sedang mendapat ujian ... tidak lulus mungkin, tinggal kelas, tidak diterima di sekolah favorite ato yang lain

... jangan sedih, lihatlah ... banyak sahabat-sahabat yang tidak seberuntung kita, ada yang tidak berkesempatan sekolah, bahkan yang lebih buruk dari itu. Yakinlah, inilah pilihan Allah yang terbaik bagi kita. Dan Allah Maha Tahu yang 'pas' bagi kita

Ingat, jangan sedih ... karena kita tidak sendiri.

'Batu Besar Hidup Ini'

Suatu hari, seorang guru yang arif sedang memberikan pelajaran kepada murid-muridnya. Ia berdiri di depan dan mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakannya di meja. Diisinya ember itu dengan batu sebesar kepalan tangan. Diisi terus sampai tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukan ke dalam ember itu. Lalu ia bertanya kepada murid-murid nya. "menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?"
Serentak muridnya berkata, "Ya!" Sang guru bertanya lagi, "Sungguhkah demikian?" Kemudian ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia tuangkan kerikil itu ke dalam ember, lalu mengocok-ngocok ember itu hingga kerikil-kerikil itu turun mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu.
Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada murid-muridnya, "Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"Kali ini murid-muridnya terdiam. Seseorang menjawab "Mungkin Belum" "Bagus, kalian sudah mulai mengerti,"sahut sang guru. Kemudian, ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkan nya kedalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong diantara batu dan kerikil sampai penuh.
Sekali lagi, ia bertanya pada murid-muridnya, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" "Belum!" Saut murid-muridnya serentak. Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Kini kalian telah mengerti." Kemudian ia meraih sebotol air dan menuangkan nya ke bibir ember. Lalu, ia menoleh kekelas dan bertanya, "tahukah kalian apa maksud ilustrasi ini ?".
Seorang murid dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga, maka pasti kita bisa mengerjakan nya."
"Oh, bukan!" Sahut sang guru, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari ilustrasi ini mengajarkan pada kita, bahwa bila kita tidak memasukan 'batu besar' terlebih dahulu, maka kita tidak akan bisa memasukan semuanya".
Nah, apakah yang dimaksud dengan 'batu besar' adalah yang utama dan penting dalam setiap detik serta momen yang kita hadapi atau bahkan dalam rentang umur yang terbatas seperti terbatasnya ruang dalam ember tersebut?"
Ingatlah untuk selalu mengingat 'batu besar' atau kita akan kehilangan kesempatan, bila kita selalu mendahulukan dengan hal-hal kecil yang merisaukan. Dan hal ini tidak seharusnya terjadi.
Artinya, sama dengan adegan kita. Ketika kita tak mengutamakannya, maka hal-hal kecil akan membengkalai tugas-tugas besar kita. Jika hal-hal besar kita dahulukan, maka hal yang kecil akan selalu menemukan kesempatan. Kalaupun tidak, toh 'kan cuman masalah kecil. "Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berarti baginya." (HR. At Tirmidzi).